1 Kezragore

Contoh Paragraf Essay Argumentasi

By Andi ArifFriday, 16 September 2016esai

Contoh Esai Argumentatif Tentang Lingkungan hidup dan sampah di Indonesia

Contoh Esai Argumentatif Tentang Lingkungan hidup dan sampah di Indonesia - Hai sobat, tahukah anda pengertian esai argumentatif tersebut ? Esai argumentatif adalah suatu karangan yang berisi pandangan atau opini pribadi penulis terhadap sebuah permasalahan.berikut ini contoh esai argumentatif mengenai lingkungan hidup dan sampah. Sebelumnya sobat membaca artikel di bawah ini, apakah sobat sudah perduli dengan lingkungan sekitar? Apa kalian sudah membuang sampah pada tempatnya? Ayo sobat mulai sekarang kita harus sadar dan peduli bahwa banyak sekali sebab dan akibat dari kita jikalau membuang sampah sembarangan apalagi membuang sampah di sungai.

Contoh Artikel Tentang Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup dan sampah di Indonesia

Sampah merupakan masalah yang sering kita dengar di televisi atau lingkungan sekitar. Sampah merupakan kotoran atau barang bekas yang berbau tidak sedap bahkan menimbulkan beberapa penyakit ketika sampah tertumpuk. Setiap daerah ada cara dalam mengatasi timbunan sampah yang jumlahnya terus meningkat  setiap hari.tetapi masyarakat tidak menyadari akibatnya. Sampah sekarang menjadi Masalah yang difokuskan dan paling utama karena berkaitan dengan kondisi lingkungan suatu daerah tertentu karena selain tidak enak di pandang, mengakibatkan bau yang tak sedap dan yang sering terjadi dan menimbulkan masalah besar adalah bencana banjir.

Bukan hanya ada Di ibukota DKI Jakarta ada juga di berbagai daerah di Indonesia, sampah merupakan permasalahan yang tak kunjung menemukan penyelesaian, sedangkan pemerintah sudah melaksanankan program re-use dan re-cycle, tetapi  permasalahan lingkungan dan sampah di ibukota dan daerah lainnya ini belum juga terselesaikan. Banyak sekali masyrakat tidak peduli dengan lingkungan sekitar bahkan tidak berpikir panjang tentang perbuatan membuang sampah sembarangan, bukan hanya sampah melainkan penebangan pohon liar juga dapat menimbulkan bencana, pembakaran hutan pun begitu. Berikut ini terdapat permasalahan – permasalahan yang dapat mengakibatkan kerusakan yang cukup parah di lingkungan atau setiap daerah di Indonesia.

1. masalah yang pertama, yaitu penebangan kayu liar. bahan – bahan kayu tersebut diambil dari hutan tanpa memperhatikan akibatknya sehingga banyak hutan yang habis ditebangi dan manusia tidak bertanggung jawab, mereka tidak memikirkan sebab dan akibatnya. Akibatnya, hutan menjadi gundul dan kehilangan fungsi – fungsinya, sehingga tidak dapat mencegah kebanjiran.

2. masalah yang kedua, yaitu polusi. Polusi ini yang sangat menganggu sekali tanpa masayarakat yang memliki pabrik dan motor berasap akan mengganggu masyarakat atau lingkungan sekitar. Hal ini dikarenakan banyaknya asap pabrik, kendaraan bermotor dan lain masih banyak lagi yang dihasilkan.

3. masalah yang ketiga yaitu kurangnya ketersediaan tempat pembuangan sampah. Sehingga banyak diantaranya warga atau masyarakat indonesia masih membuang sampah sembarangan, terutama warga yang masih tertinggal didaerah yang terdapat sungai, warga masih saja membuang sampah atau lainnya yang menyebabkan kebanjiran ketika hujan. Bukan hanya banjir tetapi menyebabkan bau yang tak sedap.

4. masalah yang keempat yaitu rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan sekitarnya. Hal ini bisa dapat di lihat dari banyaknya sampah yang beserakan atau numpuk di sungai dikarenakan mereka malas dalam membuang sampah pada tempatnya. Mereka lebih memilih membuang sampah di sungai daripada di tempat sampah yang telah disediakan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa masalah lingkungan di Indonesia belum dapat terselesaikan karena masih banyak warga Indonesia tingkat kesadaran masih kurang, sehingga dapat mencemarkan lingkungan sekitar. Upaya pak presiden beserta jajarannya mudah-mudahan cepat terealisasikan akan tidak menimbulkan bencana ketika musim hujan datang.

Nah itulah tadi contoh esai argumentatif tentang lingkungan hidup terbaru. Semoga sobat semakin bertambah wawasannya tentang Bahasa Indonesia dan semoga bertambah cerdas. Salam pelajar cerdas!

So, here it goes. AAI days have started.

Fokus tulisan saya ini adalah mengenai konten utama PDT khususnya yang 6 minggu (6 weeks), yakni belajar menulis argumentative essay. Skill ini sangat penting bagi seorang akademisi, karena ini adalah dasar untuk menulis discussion paper (makalah riset, publikasi, dan sebagainya). Menulis argumentative essay juga sangat penting bagi mahasiswa agar sukses mengerjakan berbagai tugas. Selain itu, skill ini akan sangat sangat sangat bermanfaat untuk mengerjakan IELTS writing tes Task 2.

Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memulai hari-hari scholarship kita. Karena disinilah semua berawal. Kita masih penuh dengan harapan, kegembiraan, dan antisipasi atas banyak hal-hal (mudah-mudahan) luar biasa yang akan terjadi pada kita. Rentang waktu Pre Departure Training untuk Australia Award Indonesia akan bervariasi tergantung nilai IELTS yang kita dapatkan yang akan saya tulis di post yang lain.

Menulis itu mudah? Benarkah? Jika yang kita maksudkan adalah menulis diary, ya, memang cukup mudah. Namun, menulis dalam konteks akademik tidaklah mudah. Apalagi jika kita berniat menulis tugas untuk sekolah di Luar Negeri. Mengapa? Karena struktur tulisan yang kebanyakan di minta oleh kelas-kelas di negara-negara Anglo Saxon (misalnya Australia) adalah tulisan argumentative essay yang tidak terlalu digunakan di Indonesia. Pengalaman saya ketika studi Master di University of Queensland tahun 2010-2011, skill ini adalah termasuk skill utama untuk mendapat nilai bagus di kelas.

Jadi seperti apakah argumentative essay yang dimaksud?

Argumentative essay adalah sebuah tulisan yang berisi tentang isu yang diperdebatkan, atau dalam istilah Inggrisnya disebut debatable issue. Intinya, kita diminta untuk menulis esay yang berisi tanggapan, opini, dan posisi kita mengenai isu-isu tersebut. Jadi, seperti berdebat, namun dalam tulisan. Haruskah kita ambil posisi? Iya, harus. Posisi apakah? Bisa kontra, bisa pro. Netral bisa kah? Hmmm kalau netral artinya kita tidak memiliki posisi. Namun, kita dapat menuliskan derajat kesetujuan kita. Misal tergantung sesuatu (harus di jelaskan).

Menurut pengalaman saya dulu ketika mengambil master, hampir tiap kelas selalu ada tugas essay (misal membuat essay 3000 kata) yang bobot penilaiannya bisa mencapai 30-40%). Jadi skill ini sangat penting kita miliki. Biasanya, dosen akan memberikan topik/pertanyaan essay yang harus kita bahas/ kita kembangkan. Topik ini biasanya adalah isu-isu yang diperdebatkan (debatable issues) dalam bidang/ mata kuliah kita.

Pengetahuan dasar yang harus kita miliki adalah bahwa style academic writing akan cukup berbeda dengan cara penulisan lain. Secara garis besar, sebuah academic essay dapat dikembangkan dengan empat gaya: One sided style, clustering style, alternating style, dan combination style. Ketiga gaya pertama akan saya bahas di bagian akhir tulisan ini. Gaya keempat merupakan gaya kombinasi jadi tidak perlu saya bahas sekarang.

Apa sajakah yang harus kita pikirkan ketika kita akan menulis esay? Pertama tentunya adalah mebuat draft dan/atau kerangka pikir/ kerangka esai. Secara garis besar, berikut saya sajikan tahapan menulis academic essay ala PDT 6 weeks  di IALF Bali:

Tahap 1: Menentukan topik essay

Langkah pertama yang kita lakukan dalam pembuatan essay adalah mencari topik yang akan kita kembangkan menjadi essay. Dalam konteks kuliah/tugas, pertanyaan essay ini biasanya diberikan oleh dosen. Jadi, untuk membuat essay, artinya kita menjawab pertanyaan essay dengan argumentatif, bukan sekedar deskriptif. Artinya kita harus meyakinkan pemberi essay (dosen/IELTS tester) mengenai jawaban kita. Tentunya setiap argumen harus diikuti dengan bukti (evidences) berupa data, statistik, pendapat ahli, hasil riset, media, dan sebagainya. (Saya akan membahas di post yang lain).  Patut diingat bahwa topik esay ini biasanya adalah topik yang dapat diperdebatkan (debatable issues) dalam bidang kita.

Berikut contoh pertanyaan essay yang merupakan debatable Issues:

1. Haruskah pemerintah menaikkan pajak progressive bagi orang-orang dengan pendapatan sangat tinggi?

2. Apakah anda setuju/ tidak dengan pemberian subsidi bagi childcare bagi orang tua yang bekerja?

3. Mamalia laut seharusnya tidak dikurung dalam penangkaran pada taman laut (marine parks). Sejauh mana anda setuju?

Yang perlu diingat adalah, ada beberapa isu yang dapat diperdebatkan, ada isu-isu yang tidak dapat diperdebatkan (non debatable issues). Contohnya: “Bumi merupakan salah satu planet dalam tata surya, setujukah anda?” Topik ini tentunya merupakan topik yang tidak dapat diperdebatkan karena fakta scientific sudah menjelaskan kenyataannya.

Berikut adalah salah satu contoh yang saya dapatkan dari materi tambahan selama EAP di IALF Bali

Debatable claims

Statements with which other people might or might not agree. These are sometimes called “arguments”, “assertions”, “propositions” or “premises”.

e.g. Solar energy is the best way of meeting Australia’s energy needs in the 21st century.

Non-debatable claims

Statements with which no one would normally disagree or argue. These are sometimes called “facts”.

e.g. Coal and oil were the main sources of energy in Australia in the 20th century

Sumber: EAP Bali Practice 6Wb, 2016

Dalam IELTS isu-isu ini sudah ditentukan. Ada baiknya kita sering berlatih untuk memperlancar aliran pikiran (hehehe soalnya saya sering mampet ide kalau sudah tes). Untuk mencari contoh isu-isu yang diperdebatkan bisa mencari pada link debatabase.

Tahap 2: Menentukan contention

Setelah mendapatkan isu/topik yang harus kita bahas, langkah selanjutnya adalah kita harus menentukan posisi, kita (positioning statement) disebut juga dengan thesis statement, atau contention. Contention inilah jawaban dari pertanyaan esay/ topik esai yang diminta.

Contoh:

Debatable issue/pertanyaan esai: Mamalia laut seharusnya tidak di kurung dalam penangkaran pada taman laut (marine parks). Sejauh mana anda setuju?

Untuk isu diatas, kita bisa mengembangkan contention:

1. Kontra: “Hukum harus diperkenalkan untuk melarang keberadaan institusi kejam dan tidak perlu seperti taman laut (marine parks)”.

atau bisa mengambil posisi lain:

2. Pro : “Taman laut (marine parks) merupakan sebuah institusi penting untuk konservasi dan pendidikan sehingga keberadaannya harus diatur agar berfungsi dengan lebih baik”.

Contention/ thesis statement biasanya ditulis dalam bentuk satu kalimat utuh. Letak contention biasanya terdapat pada paragraf introduction/ perkenalan. Budaya anglo-saxon yang suka langsung meminta kita untuk menuliskan pendapat kita di awal, baru di dukung dengan argumen dan bukti-bukti kuat sesudahnya. Saya juga menemukan hal ini agak sulit, terutama dengan budaya dan pola pikir orang Indonesia yang biasanya menimbang-nimbang dulu, baru muncul sikap/ posisinya.

3. Menentukan Supporting Arguments

Setelah menulis contention, atau thesis statement, selanjutnya kita menentukan supporting arguments, atau argumen-argumen yang mendukung contention kita. Perlu diingat (seperti nulis IELTS) dalam mencari supporting arguments, kita sebaiknya melihat dari berbagai sudut pandang. Misal nih soal Marine Parks tadi dengan contention : “Hukum harus diperkenalkan untuk melarang keberadaan institusi kejam dan tidak perlu seperti taman laut (marine parks)”, dapat kita support/ dukung dengan berbagai argumen dalam berbagai sudut pandang/ topik:

1. Dari sudut pandang akses masyarakat terhadap hewan laut liar

2. Dari sudut pandang riset

3. Dari sudut pandang ekonomi dan turisme

4. Dari sudut pandang hak hewan (animal rights)

Untuk masing-masing topik/ sudut pandang, kita harus membuat argumen versi kita. Untuk lebih mudah, biasanya argumen kita kembangkan dengan menjawab pertanyaan “mengapa kita memiliki contention/ thesis statement tersebut?” Jadinya seperti ini:

Contention/ Thesis statement: “Hukum harus diperkenalkan untuk melarang keberadaan institusi kejam dan tidak perlu seperti taman laut (marine parks)”. (Jadi dalam hati kita mencari alasan mengapa hal tersebut kita anggap benar)

1. Argumen 1 :  ”Masyarakat masih bisa mengobservasi hewan laut liar pada habitat aslinya tanpa harus pergi ke taman laut”. (dari sudut pandan Akses masyarakat terhadap hewan liar)

2. Argumen 2: “Riset yang dilakukan pada taman laut sering tidak dapat diandalkan, tidak valid, dan tidak reliabel”. (riset)

3. Argumen 3: “Wisatawan mancanegara dan domestik berdatangan untuk melihat alam asli dan natural, bukan untuk melihat wisata buatan seperti taman laut.” (Ekonomi dan turisme)

4. Argumen 4: “Taman laut merupakan suatu institusi yang kejam dan membelenggu mamalia laut yang merupakan mahluk cerdas dan sering membantu manusia”. (Hak Hewan/ Animal rights).

Intinya, argumen-argumen ini akan kita kembangkan lebih jauh. Dalam essay 500 kata misalnya, argumen ini akan menjadi kalimat utama yang akan dikembangkan menjadi 1 paragraf utuh. 1 paragraf biasanya terdiri dari 5-8 kalimat. Sebaiknya, argumen-argumen tersebut dilihat dari berbagai sudut pandang, jadi kita dianggap lebih komprehensif dalam menjawab pertanyaan yang berujung pada semakin persuasif lah tulisan kita.

4. Menentukan supporting evidences

Langkah berikutnya adalah memperkuat masing-masing argumen yang kita buat tadi dengan mencari supporting statements/ evidences (atau statement pendukung). Tujuannya tentunya adalah agar kita tidak omdo alias omong doang. Sering kan melihat orang berbantah, bantah satu di balas dengan bantah lain yang semuanya adalah opini. Nah ini a big no no. Setiap argumen (opini) yang kita buat harus didukung dengan bukti untuk memperkuat. Bukti ini bisa berupa penjelasan lebih lanjut, alasan, contoh, hasil riset, data statistik atau data lain, pendapat ahli, dan sebagainya.

Misalnya:

1. Argumen 1 :  ”Masyarakat masih bisa mengobservasi hewan laut liar pada habitat aslinya tanpa harus pergi ke taman laut”. (Akses masyarakat terhadap hewan liar). Argumen ini dapat kita peruat dengan bukti:

- Berbagai hewan liar lebih mudah dan murah diobservasi pada habitat aslinya.

- Akses kepada habitat asli akan lebih dekat bagi banyak orang dibanding dengan akses kepada taman laut/ marine parks yang hanya terdapat pada kota-kota tertentu.

Dan seterusnya untuk argumen 2,3,4. Masing-masing harus dikembangkan sesuai dengan argumen utamanya.

Ketika kita sudah membuat kerangka argumen, maka kita bisa mengembangkan paragraf. Pengembangan paragraf dapat kita lakukan dengan 4 cara:

1. One sided style: dalam satu essay hanya membahas sudut pandang kita dalam suatu isu.

2. Clustering style: dalam satu essay, ada satu paragraf yang berbicara tentang pendapat-pendapat yang berlawanan dengan pendapat kita (objections), namun paragraf sisanya (3-4) paragraf lain berisi tentang argumen-argumen (dan pendukung) kita.

3. Alternating style: dalam satu essay, masing-masing paragraf berisi tentang satu pandangan yang berlawanan (objection) yang kemudian kita patahkan dengan argumen-argumen kita (rebuttal).

4. Combination style (kombinasi semuanya)

Pengembangan paragraf bisa kita pilih sesuai keinginan kita. Namun, biasanya disarankan kita mengikut sertakan pandangan lawan (bisa menggunakan clustering/ alternating style) karena terkesan lebih kuat. Kenapa? karena kita akan melakukan bantahan (rebuttal) terhadap pandangan lawan/objection/consession tersebut.

Untuk mempermudah, marilah kita bayangkan sebuah essay (500 kata) yang terdiri dari 4 paragraf. Ilustrasinya seperti ini

1. Model One Sided Style

Par 1:

Introduction

Thesis statement/ Contention

Par 2

Argument 1 (mendukung contention kita)

Supports/  evidences

Par 2

Argument 2 (mendukung contention kita)

Supports/  evidences

Par 3

Argument 3 (mendukung contention kita)

Supports/  evidences

Par 4

Conclusion/ kesimpulan

Contoh essay 1 sided : Source: PDT training at IALF Bali

2. Model Clustering

Par 1:

Introduction

Thesis statement/ Contention

Par 2

Concession (kumpulan argumen-argumen yang kontra dengan contention kita)

Par 2

Argument 1 (mendukung contention kita)

Supports/  evidences

Par 3

Argument 2 (mendukung contention kita)

Supports/  evidences

Par 4

Conclusion/ kesimpulan

Contoh paragraf dikembangkan dengan metode clustering, paragraf setelah intro (paragraf 1 berisi consession)

3. Model Alternating

Par 1:

Introduction

Thesis statement/ Contention

Par 2

Concession 1

(However) Argument 1 + supports

Par 3

Concession 2

(However) Argument 2 + supports

Par 4

Conclusion/ kesimpulan

Model alternating essay, paragraf ke 2 berisi consession, langsung dibalas dengan rebuttal, dst
Sumber: PDT Traning Bali 2016

Indeks:

Contention/ Thesis Statement: Argumen utama kita yang menunjukkan sikap kita terhadap topik yang diberikan. Tujuannya untuk menjawab pertanyaan essay. Biasanya ada di paragraf 1 (meski banyak juga di paragraf akhir).

Concession/objection: Argumen yang kontra / berlawanan terhadap contention kita (pemikiran pihak lawan). Biasanya kita masukkan juga agar terkesan kita memahami topik, lebih objektif. Concession terkadang disebut juga dengan objection.

Supporting Argument 1/2/3: Argumen yang mendukung argumen utama (contention kita).

Rebuttal : Pernyataan bantahan. Biasanya ada pada format essay alternating. Setelah kita manyajikan concession lawan, maka kita akan melakukan rebuttal (bantahan). Bantahan ini biasanya diawali dengan linking words/ signposts yang menunjukkan kata berlawanan seperti However, nevertheless, dsb.

 Sign posts : connecting words. Misalnya kata however, nevertheless (yang biasanya mengawali argumen kita jika kita menuliskan concession sebelumnya).

Menggunakan Software Rationale untuk Membuat Outline Essay

Hal yang menarik mengenai belajar di IALF (Bali) adalah kita dapat menggunakan software argumen mapping yang menurut saya sangat membantu dalam mengembangkan paragraf. Software ini sebearnya ada bermacam-macam, namun menurut saya yang mudah digunakan (mungkin karena saya familiar) adalah software bernama Rationale. Selama PDT Software ini dapat diakses gratis dalam IALF, namun sepertinya bisa juga diinstal kepada PC kita (dengan beberapa trik). Sayangnya, sejauh ini rationale masih belum bisa saya gunakan pada Macbook. Jika ingin mencoba membuat model rationale dapat dilihat pada website ini.

Rationale yang sudah jadi terlihat seperti pohon, jadi kerangka essay kita akan tampak seperti rangkaian pohon. Satu cabang akan mewakili satu paragraf. Box untuk contention akan berwarna hitam, objection/concession akan berwarn merah, rebuttal berwarna orange, dan hijau berarti supports. Menurut saya, software ini sangat membantu mengelompokkan/ memetakan pikiran kita yang sering ruwet, menambah logis paragraf kita, dan membantu kita agar lebih teliti menyusun kalimat.

Seperti apa tampilan rationale? Gambar berikut menunjukkan beberapa peta rationale yang saya buat (sebagai tugas dekonstruksi dari guru saya, Mark). Gambar yang berbeda akan merujuk pada tipe esay yang berbeda.

 

Model Rationale tiga paragraf mini, dengan style one sided (semua hijau)

 

Model Rationale untuk style alternating, dimana setiap kotak menunjukkan objection, yang kemudian kita bantah (rebuttal) dengan warna oranye

 

Model kombinasi, karena terdapat 3 paragraf alternating, 1 paragraf one sided. Katanya sih ini paling ideal

Dengan pemberian warna kotak yang berbeda, maka kita akan tahu apakah kita sudah cukup menyuport argumen kita (idealnya warna hijau jauh lebih banyak dari warna merah) karena kita ingin posisi kita tampak kuat di mata pembaca.

 

Sekian dulu bahasan awal saya tentang menulis essay academic. Saya akan memberikan detail lainnya di post berikutnya.

 

*Terimakasih pada guru saya Mark Hinde di IALF Bali (PDT 6Wb 2016) yang sudah membuat semua menjadi terang benderang dan jelas, dan Sonja Elsegood guru saya PDT 6Wa 2010 yang memperkenalkan keseluruhan konsep ini.

 

 

 

Posted in:Information and Lecture, Scholarship and Study / Tagged:academic essay, academic writing, argumentasi, argumentative essay, cara menulis esai, Cara menulis essay, esay, essay, IELTS practice, menggunakan software rationale, menulis esay, menulis IELTS, panduan menulis esai, panduan menulis esay, software rationale untuk esay, tahapan menulis esai

Leave a Comment

(0 Comments)

Your email address will not be published. Required fields are marked *